Jumat, 30 Maret 2012

KONSEP DASAR KELUARGA


KONSEP DASAR KELUARGA

            Ada sebuah soundtrack dari film pada waktu saya masih kecil yang berhubungan dengan keluarga. Dari film tersebut kita dapat mengambil banyak hikmah dan pelajaran untuk kita. “Harta yang paling berharga adalah keluarga. Istana yang paling indah adalah keluarga. Puisi yang paling bermakna adalah keluarga. Mutiara tiada tara adalah keluarga….”
A.     Pengertian keluarga
·        Ki Hajar Dewantara : Keluarga merupakan kumpulan beberapa orang yang karena terikat oleh satu turunan lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang hakiki, esensial, enak dan berkehendak bersama-sama memperteguh gabungan itu untuk memuliakan masing-masing anggotanya.
·        Sigmund Freud : Keluarga terbentuk karena adanya perkawinan pria dan wanita keluarga merupakan manifestasi daripada dorongan seksual sehingga landasan itu adalah kehidupan seksual suami isteri.
·        Obgburn : Keluarga merupakan persekutuan antara suami isteri dengan atau tanpa anak atau seorang laki-laki atau perempuan yang telah sendirian dengan anak-anaknya.
·        Siti Meichati : Keluarga merupakan ikatan kelompok sosial yang terkecil.
·        Siti Partini : Keluarga merupakan sekelompok manusia yang terdiri atas suami, isteri, anak-anak bila ada yang terkait atau didahului dengan perkawinan.
·        Keluarga adalah Suatu ikatan persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara dua orang dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki atau perempuan yang sudah sendirian dengan anak-anak baik anaknya sendiri atau adopsi dan tinggal dalam sebuah rumah tangga.
B.     Unsur-unsur dan Faktor Pembentuk keluarga
1.      Unsur-unsur Keluarga :
·        Keluarga merupakan perserikatan hidup antara manusia yang paling dasar dan kecil.
·        Perserikatan itu paling sedikit dari dua orang dewasa yang berlainan jenis kelamin.
·        Perserikatan itu berdasar atas ikatan darah, perkawinan dan adopsi.
·        Ada kalanya keluarga hanya terdiri dari seorang laki-laki saja atau seorang perempuan saja dengan atau tanpa anak.

2.      Faktor Pembentuk keluarga :
·        Untuk memenuhi kebutuhan biologis atau kebutuhan seks
·        Untuk memenuhi kebutuhan sosial, status, penghargaan dsb
·        Untuk pembagian tugas misalnya : mendidik anak, mencari nafkah dsb
·        Demi hari tua kelak, yaitu pemeliharaan di hari tua.
C.     Fungsi keluarga
Merupakan tugas-tugas yang harus dilaksanakan didalam keluarga tersebut.
1.      Fungsi Biologis
·        Keluarga merupakan wadah yang sah baik ditinjau dari segi agama dan masyarakat dalam hal pengaturan dan pemuasan keinginan seksual.
·        Keluarga merupakan lembaga pokok yang mengorganisasi dan mengatur pemuasan keinginan-keinginan.
·        Untuk melangsungkan kehidupan suatu bangsa, maka setiap masyarakat mempercayakan kepada keluarga. Dalam hal penghasilan anggota baru, sebagai penerus bagi kehidupan manusia.
2.      Fungsi Perlindungan dan Pemeliharaan
·        Perlindungan dan Pemeliharaan keluarga terhadap anggota-anggotanya meliputi kebutuhan jasmani dan rohani.
o       Jasmani            : Pangan, Sandang, Papan.
o       Rohani              : Kasih sayang, Keamanan, Pendidikan.
3.      Fungsi Sosialisasi
·        Proses sosialisasi adalah proses  belajar yaitu proses akomodasi dimana individu menahan, mengubah impuls-impuls dalam dirinya dan mengambil kebudayaan masyarakat.
·        Dalam proses sosialisasi, individu mempelajari kebiasaan, sikap, ide-ide pola nilai dan tingkah laku dalam masyarakat dimana ia hidup.
·        Semua sikap dan kecakapan yang dipelajari dalam proses sosialisasi itu disusun dan dikembangkan sesuai dengan sebagai suatu kesatuan sistem dalam diri pribadi.
4.      Fungsi Afeksi dan Rekreasi
·        Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan kebutuhan yang fundamental akan kasih sayang dan ini dapat dipenuhi oleh keluarga.
·        Keluarga merupakan medan rekreasi bagi anggotanya.
5.      Fungsi Ekonomi
·        Keluarga berusaha keras  menyelenggarakan kebutuhan pokok untuk mereka hidup.
·        Pada dahulu keluarga merupakan unit produksi ekonomis.
·        Pada saat sekarang orang tua sebagai penghasil dan anak sebagai konsumen ekonomi.
6.      Fungsi Status Sosial
·        Dahulu status sosial diturunkan secara otomatis namun sekarang sudah hampir hilang.
·        Status individu juga dapat berubah pula melalui pernikahan dan usaha-usaha individu.
7.      Fungsi Agama
·        Keluarga diwajibkan untuk menjalani serta mengamalkan ajaran-ajaran agama dalam pelakunya sebagai manusia yang taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

D.    Bentuk – Bentuk Keluarga
1.      Menurut Golden Berg (1980)
1)      Keluarga Inti (Nuclear Family)
Yang terdiri dari ayah, ibu dan anak kandung.
2)      Keluarga Besar (Extended Family)
Merupakan gabungan antara keluarga inti dan saudara-saudara lainnya.
3)      Keluarga Campuran (Blended Family)
Yang terdiri dari suami, istri, anak-anak kandung serta anak-anak tiri.
4)      Keluarga Menurut Hukum Umum (Common Law Family)
Keluarga yang terdiri dari pria dan wanita yang tidak terikat dalam perkawinan sah serta anak-anak mereka tinggal bersama.
5)      Keluarga Orang Tua Tunggal (Single Parent Family)
Keluarga yang terdiri dari pria atau wanita, mungkin karena bercerai, berpisah, ditinggal meninggal atau mungkin tidak pernah menikah, serta anak-anak mereka tinggal bersama.
6)      Keluarga Hidup Bersama (Commune Family)
Keluarga yang terdiri dari pria, wanita, anak-anak yang tinggal bersama, berbagi hak, dan tanggung jawab serta memiliki kekayaan bersama.
7)      Keluarga Serial (Serial Family)
Keluarga yang terdiri dari pria dan wanita yang telah menikah dan mungkin telah punya anak, tetapi kemudian bercerai dan masing-masing menikah lagi serta memiliki anak-anak dengan pasangan masing-masing, tetapi semuanya menganggap sebagai keluarga.
8)      Keluarga Gabungan atau Komposit (Composite Family)
 Keluarga terdiri dari suami dengan beberapa istri dan anak-anak nya atau istri dengan beberapa suaminya yang hidup bersama.
9)      Keluarga Tinggal Bersama (Cohabitation Family)
Pria dan wanita yang telah hidup bersama tanpa adanya ikatan pernikahan.
2.      Menurut Siti Partini (1977)
1)      Keluarga Kecil
Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan paling banyak tiga orang anak.
2)      Keluarga Besar
Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan lebih dari tiga orang anak.
3.      Menurut BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana)
1)      Keluarga Batih
Keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, anak-anak yang belum menikah.
2)      Keluarga Bukan Batih
Suatu keluarga yang terdiri dari keluarga batih dan saudara-saudara yang lainnya.
4.      Menurut Danuri (1976)
1)      Keluarga yang sibuk
Keluarga yang ayah dan ibu nya sibuk bekerja bahkan anak-anaknya juga harus ikut bekerja. Sehingga orang tua kurang memperhatikan anaknya.
2)      Keluarga yang lemah wibawa
Orang tua yang kurang berwibawa terhadap anak-anaknya maka anak-anaknya tersebut akan berbuat sesuka hatinya sehingga sering terjadi penyimpangan-penyimpangan dari norma yang dimiliki orang tuanya. Dengan tidak adanya kewibawaan orang tua terhadap anak-anaknya maka pendidikan didalam keluarga oleh orang tua tidak dapat berlangsung dengan baik.
3)      Keluarga yang tegang  
Keluarga yang kurang akrab, kurang adanya kasih sayang, kurang peduli sehingga akan berakibat sering mengalami ketegangan.
Keluarga yang tidak adanya keharmonisan didalamnya. Tidak ada kesatuan pendapat, sikap dan pandangan terhadap sesuatu yang dihadapinya.
4)      Keluarga yang pamer
Keluarga pamer menitik beratkan pada kemajuan-kemajuan lahiriah yang berupa kemewahan, sedang segi kerohanian kurang diperhatikan. Keluarga yang seng pamer ini biasannya iri terhadap kekayaan orang lain dan rasa iri inilah yang mengakibatkan keluarga jadi tidak tentram dan menjadi sumber ketegangan didalam keluarga.
5)      Keluarga yang ideal
Keluarga dimana memiliki suasana yang menyenangkan, mutu keluarga tinggi, sumber penghasilan cukup, mempunyai pandangan hidup beragama yang kuat, hidup sederhana dan adanya saling pengertian antar keluarga. Dengan demikian cita-cita keluarga sejahtera lahir dan batin akan tercapai dalam keluarga.
5.      Menurut Pujosuwarno (1994)
1)      Tipe keluarga bangsawan
Dalam tipe keluarga bangsawan  masih banyak kita lihat di daerah kerajaan. Dimana keluarga ini masih memegang teguh tingkat kebangsawanan yang dimiliki. Mereka masih merasa tidak sama dengan masyarakat kebanyakan yang  tidak memiliki title kebangsawanan.
Tapi akhir-akhir ini title kebangsawanan seamakin  terganti oleh title kependiddikan. Orang-orang lebih bangga memiliki gelar kesarjanaannya.
2)      Tipe keluarga saudagar
Orientasi keluarga saudagar merupakan bagian dari orang swasta, pengusaha, pedagang dan pemilik perindustrian. Dalam hidupnya mereka gigih berjuang untuk mengumpulkan harta benda sebanyak-banyaknya.
Status ekonomi sering di jadikan pertimbangan dalam perkawinan. Mereka mengusahakan agar perkawinan selalu terjadi antara tipe keluarga sejenisnya dengan maksud agar kekayaannya tidak jatuh pada orang atau keluarga bukan saudagar.
3)      Tipe keluarga petani
Tipe keluarga ini angat mengutamakan pekerjaan bertani, pekerjaan-pekerjaan yang lain di rasa kurang sesuai dengan dirinya. Biasanya keluarga ini menghendaki agar keturunannya sebagai petani, pendidikan dianggap kurang penting, sekolah dianggap menghabiskan biaya saja, sedangkan hasil yang dicapainya sangat lama. Mereka pada umumnya mementingkan rumah tinggal yang mewah dan bagus.
Walaupun sekarang keluarga petani berkurang dan sudah banyak yang mementingkan pendidikan bagi anak-anaknya.
4)      Tipe keluarga intelek
Tipe keluarga ini jelas mendambakan intelektualitis atau pendidikan. Keluarga ini menghendaki keturunannya dapat mencapai pendidikan yang setinggi-tingginya, gelar sarjana selalu menjadi batas minimum dari tingkat pendidikan bagi keluarganya. Mereka akan sangat kecewa apabila ada keluarganya yang gagal memasuki perguruan tinggi atau gagal mencapai gelar sarjana.
5)      Tipe keluarga pegawai negeri
Tipe keluarga ini sangat bahagia menjadi pegawai negeri, apapun yang dijabatnya, baik telah berpangkat tinggi maupun rendah. Mereka merasa hidup tentram sebagai pegawai negeri, mereka tidak harus memutar otak untuk mendapatkan nafkah untuk hari ini esok dan nanti.

1 komentar:

  1. sis boleh tahu referensi tipe keluarga menurut pujosuwarno jdl buku na apa???

    BalasHapus